RSS

Titik Balik

12 Oct

….seringkali kita mengeluh sebelum menjalani takdir…

“Apa yang kalian rasakan setelah semua yang kalian lewati satu setengah bulan ini?” adalah suatu kalimat yang ditanyakan oleh seorang senior kepada kami, adik-adik mahasiswa barunya yang sedang berbaris rapi, berjajar membentuk sebuah formasi huruf U dalam rangkaian acara Ospek Fakultas.

”Keluarga!”

“Persaudaraan!”

Begitu kata-kata yang keluar dari mulut beberapa teman saya, tapi entah kenapa yang muncul di benak saya Cuma kata ‘mantap’.

Mungkin anda semua yang mendengar ucapan saya akan merasa aneh. Mungkin ada yang berpikiran saya kurang peka. Cuma itukah? Yeah. Cuma itu. Tapi saya ingin mengklarifikasi kenapa saya Cuma bisa bilang mantap. Mantap, buat saya cukup mewakili segala perasaan yang saat itu memenuhi rongga hati saya.

Pertama, karena lagi-lagi saya masih takjub akan apa yang saya punya sekarang. Man, saya ini Cuma manusia. Nggak pernah tau apa yang sebenarnya bakal terjadi—baik atau buruk walaupun saya selalu berangan-angan bakal kuliah di Surabaya, padahal sejak kecil saya rutin mengunjungi ibu kotanya Provinsi Jawa Timur ini karena orangtua saya memang orang sana. Saya nggak pernah minta, apalagi berharap ditempatkan di sini. Yang saya tahu saya hanya berdoa meminta agar apa yang saya dapat adalah yang terbaik. Saya sadar dulu saya pernah ragu akan permainan tangan Tuhan yang membuat saya ada disini, tapi sekarang—saya tahu kalau ternyata Tuhan sedang berusaha melindungi saya. Tuhan tahu kalau saya nggak bisa marah dan paling benci dibentak-bentak, dan ya inilah dia hasilnya. Saya dapat bangku kuliah di Universitas yang Ospek jurusannya memang bersih dari hal-hal yang sejak awal saya harap nggak akan pernah saya lewati. Alhamdulillah. Berarti memang benar kalau manusia memang sering sok tahu. Sering merengek kesal minta sesuatu padahal nggak sadar kalau ada sesuatu yang jauh lebih baik dari apa yang saya inginkan.

Kedua, saya nggak nyangka kalau sekarang saya punya banyak orang yang bisa dihubungi saat ada masalah. Padahal dulu saya sempet merasa nggak diterima disini, saking banyaknya temen yang nanya begini, “Oh, orang Jakarta, tha? Kenapa nggak kuliah di UI aja?” Okelah, buat yang mengucapkan kalimat itu, pastilah mereka berpikir apa yang mereka tanyakan itu biasa aja. Cuma penasaran, tapi bagi saya yang ditanya, saya selalu ngerasa pertanyaan itu seperti bentuk halus dari pertanyaan, “So, lo ngapain disini? Mestinya lo tuh nempatin jatah bangku mahasiswa di Jakarta aja, jangan ngerebut kursi temen-temen gw disini.” Dulu saya Cuma bisa menggeleng lemah sambil mencoba tersenyum—walaupun rasanya pahit, tapi sekarang saya jadi ngerasa nggak sendirian lagi di tempat yang jauh dari rumah tempat saya tumbuh besar. Saya dulunya sering ngerasa terasing disini. Nggak hapal jalan, nggak tau rute angkot, bahkan nggak sadar kalau matahari terbit setengah jam lebih awal daripada di Jakarta sampai-sampai pas awal pindah kesini saya telat solat subuh melulu. Singkat kata, kacau–belum lagi saya nggak tau siapa yang bisa atau harus saya hubungi kalau saya butuh sesuatu.

Ketiga, saya rasa sekarang hidup saya jadi lebih santai. Mungkin Tuhan ingin memberi keleluasaan untuk saya beristirahat, mengingat sejak SD sekolah saya selalu jauh dari rumah (sebenernya nggak jauh juga sih, cuma macetnya itu loh) sampe-sampe tiap hari bangun jam setengah 5 pagi. Itu waktu SD. Pas SMA, saya harus bangun jam 4 pagi soalnya jam setengah 7 sudah bel masuk, jadinya jam setengah 6 kurang saya sudah harus berangkat dari rumah. Memang sih, sekarang saya juga masih sering begadang, tapi beneran deh, jam tidur saya di sini lebih banyak daripada dulu pas saya di rumah. Wajar, karena kalaupun saya ada kuliah jam setengah 8 pagi, saya nggak akan terlambat kalau berangkat jam tujuh lewat lima belas menit–karena jarak kostan saya ke kampus deket banget udah kayak main ke tetangga ajalah pokoknya.

Keempat, err–saya pikir-pikir dulu ya, bingung soalnya. Hehehe. Sampai jumpa!

 
9 Comments

Posted by on October 12, 2009 in uncategorized

 

9 responses to “Titik Balik

  1. Rizqy Amelia Zein Badjabir

    October 12, 2009 at 07:45

    “…..Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui ,” (QS Al-Baqarah : 216)

    selamat datang, Visi!🙂

     
    • Visi

      October 12, 2009 at 19:29

      Makasih, Mbak Amel! SD-PC berkesan banget buatku. Membawa perubahan walaupun nggak besar–tapi yang pasti aku jadi banyak belajar sejak tanggal 18 Agustus 2009.

       
      • Rizqy Amelia Zein Badjabir

        October 13, 2009 at 20:51

        tunggu aja beberapa tahun lagi vis.. kamu bakal dapet kejutan yang lebih lebih lebih deh..
        tak jamin 1000 persen kamu nggak akan menyesal kuliah disini..🙂

         
      • Visi

        October 14, 2009 at 09:57

        oke deh Mbak Amel. hehehe.

         
  2. deady

    October 13, 2009 at 14:34

    kuliah di ITS kah?
    aku dulu juga pernah kul di sana soalnya
    hehehe

     
    • Visi

      October 14, 2009 at 09:57

      bukan, saya kuliah di Unair.

       
  3. iman

    October 15, 2009 at 17:38

    “mantap” sudah cukup menggambarkan yang kamu rasakan, tidak perlu terlintas kata-kata “keluarga” atau “persaudaraan” . . . . . .

    because fun and mental, is fundamental

    have an awesome days

     
  4. Harris

    October 27, 2009 at 16:54

    Titik balik yg luar biasa sudah kualami disini. Betapa pngalaman 4 tahun (+1 smt) membuat pngalaman yg luar biasa melebihi pngalaman ku slama 18 tahun. Brtemu org2 yg luar biasa serta senantiasa berbagi pngalaman, brtukar pikiran, dan menimba ilmu membuat perubahan yg luar biasa bagiku. Breaking my own limit is the most importhing that i gained… Melahirkan ‘the new me’ , ditengah sgala keterbatasan dan ketidakpuasan manusia (especially me).
    But, I believe GOD will always give us what we need, not give what we ask…

     
  5. andy costa

    December 10, 2009 at 00:10

    bahkan setelah ibu dan ayah anda bertemu dan melakukan pembuahan, hanya ada satu kemungkinan dari 300.000 juta, bahwa manusia yang akan dilahirkan itu adalah anda !

    dengan kata lain, apabila anda mempunyai saudara kandung sebanyak 300.000 juta, maka tak seorang pun yang sama sekali dengan anda..

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: