RSS

Accidentaly in Gloom

16 Jan

Melankolis biasanya dikaitkan dengan sikap murung dan berlebihan. Haha okelah, saya sebenarnya bukan orang melankolis. Saya nggak terlalu rapi kok orangnya.. Lebih suka membiarkan barang tergeletak dimana-mana yang penting saya tahu dimana harus mencarinya daripada merapikan mereka dalam satu kotak namun saya harus susah payah membongkarnya agar bisa menemukan apa yang saya butuhkan. Saya juga tidak suka larut memikirkan kesedihan dan kegagalan saya–lebih senang mencari pelarian dengan bercanda atau menemukan sesuatu yang bisa membuat saya tertawa, atau mungkin orang yang bisa saya ajak tertawa bersama untuk menertawai bahwa apa yang baru saja terjadi itu memang rejeki saya. Ibaratnya, justru saya beruntung karena tidak dapat itu.  Kata teman saya, saya itu gabungan sanguinis dan plegmatis. Saya suka jadi pusat perhatian, tapi tetap suka jadi orang di belakang layar.

Dari sekian banyak alasan yang saya kemukakan diatas, tetap saja saya rasa ada sisi terselubung di hati saya. Sebenernya kalo saya udah sendirian di kamar, semua yang sudah pergi tadinya bisa balik lagi. Saya bisa jadi lebih sensitif. Paraah deh pokoknya. Saya memang selalu butuh orang lain untuk jadi pelampiasan saya, untuk diajak bersenang-senang, tentunya. Contohnya sekarang. Haha saya tahu pilihan saya salah, bukannya OL terus ngajakin orang heboh-heboh dengan komen geje, saya malah mendem sama laptop di sofa rumah bude saya yang memang pewe banget, pake headset yang volumenya cukup bisa bikin saya buta sama dunia luar dengan segenap lagu-lagu yang mendadak saya rasa bikin saya jadi pengen nangis.

Tadi pagi pas OL saya buka Facebook dan menemukan beberapa update status dari adik kelas saya di SMA. Mereka pada nulis keterima PMDK UI. *Yang suka bacain blog saya dulu, pasti ngerti kan kenapa saya tiba-tiba  jadi gloomy?* Ya, saya jadi ngerasain suatu de ja vu. Astaghfirullah. Berasa semua kenangan saya kebuka lagi, saya jadi sedih. Gambaran masa-masa penuh perjuangan yang sangaat bikin makan hati jadi balik lagi, dan sampe sekarang masih belum pergi. Padahal mestinya saya nggak usah ambil pusing soal ini. Toh saya juga nggak bisa protes sama Yang Memberi Takdir saya untuk jadi seperti yang sekarang. Lagipula saya sudah senang di posisi saya yang sekarang.

Kurang apa coba, punya banyak temen yang baik–yang mau menerjemahkan berbagai bahasa yang tidak familiar dengan telinga saya ke bahasa Indonesia? Kurang beruntung apa saya, yang punya beberapa teman yang rela mengantar-jemput saya kemana-mana dengan senang hati karena tahu saya nggak bisa mengendarai kendaraan apapun kecuali sepeda? Butuh apa lagi, selain diberi kepercayaan kalo saya memang pantas menjalankan beberapa hal yang saya tahu kalo mereka pun bisa nyeleseinnya tanpa saya?

Aah semoga saya kembali mencapai kondisi homeostasis sebelum liburan benar-benar mulai.

This feeling is soo annoying me and I don’t want to hurt anyone with my catharsis activity, even if they said that he’ll always listen to  me.

 
4 Comments

Posted by on January 16, 2010 in uncategorized

 

4 responses to “Accidentaly in Gloom

  1. harris fadillah

    January 16, 2010 at 16:44

    hmmmm…… homeostasis ya

     
    • Visi

      January 19, 2010 at 14:01

      haha iyaa. untungnya sekarang sudah mulai balik..

       
  2. amir

    January 17, 2010 at 10:29

    “Sometimes despite your best efforts otherwise, life will give you lemons. When that happens you got 2 choices, friend. You can wear a sour face or make lemonade” (Burke Ryan)

    sepertinya banyak sekali kemiripan antara amir dan kamu, “sesuatu yang sudah pergi balik lagi” or “accidental in gloom” saya juga sering mengalaminya, inconvenience thoughts itu kata buku psikologi klinis symtomps dari obsessive compulsive disorder(OCD)…

    amir dulu sering berfikiran bahwa dia adalah OCD, hingga dalam sebuah kejadian dia sadar bahwa dia terjebak dalam ilmunya sendiri… seharusnya psikologi utk personal welfare bukan untuk mempertegas gangguan apa yang kita rasakan

    begitu juga dengan kepribadian

    Note: kalu sudah ngambil psikologi kepribadian 2, kepribadian itu bukan diskrit, tetapi kontinum (karen itu terciptalah karakter amir)

     
    • Visi

      January 19, 2010 at 14:09

      hehe iya sih, hidup tergantung pilihan.

      Sebelnya pikiran-pikiran kaya gini nggak bisa dikontrol kapan harus keluar dan kapan dia harus hilang.

      pokoknya kalo udah kepikiran bisa bikin jadi sensi banget.

      wah masih jauh itu psikologi kepribadian. hehe

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: