RSS

Human, the Actor of the Life

08 Aug

All the world’s a stage,

and all the men and women merely players

They have their exits and their entrances

-William Shakespeare-

Kehidupan adalah sebuah skenario Tuhan. Pertanyaan tentang apakah sebenarnya tujuan dari diciptakannya makhluk tidak pernah bisa terjawab. Mengapa makhluk harus mengalami hidup? Toh pada akhirnya semua makhluk akan mati. Mungkin Tuhan memiliki suatu maksud yang besar dengan menciptakan seluruh kehidupan. Ia menciptakan alam semesta lengkap dengan isinya yang berupa manusia, hewan, tumbuhan, bahkan juga alien—kalau memang di angkasa luar sana benar-benar hidup makhluk hijau berkepala besar yang senang mengendarai piring terbang untuk bepergian ke bumi.

Siapa itu manusia? Sepertinya manusia lebih cocok bila disebut sebagai aktor dan aktrisnya kehidupan, dimana dunia sendiri bisa dianggap sebagai latar atau setting terjadinya sebuah kehidupan. Ada manusia yang mendapatkan peran protagonis, ada yang mendapatkan peran antagonis, ada yang mendapatkan peran tidak jelas—kadang ia bersikap baik namun bisa juga melangsungkan aksi jahat bila dipaksa atau sebaliknya—atau malah sekadar menjadi figuran yang hanya muncul dua puluh detik. Yang pasti, tidak ada yang tidak punya peranan. Tanpa peran antagonis, seorang tokoh protagonis tidak akan tampak kebaikan hatinya—begitu juga sebaliknya. Seseorang tidak akan bisa disebut antagonis tanpa terlihat adanya pertentangan antara ia dan si protagonis. Lalu bagaimana dengan figuran? Tanpa figuran tentunya suatu tokoh tidak bisa dibilang tokoh sentral.

Hidup manusia sudah diplot sedemikian rupa. Manusia tidak pernah tahu apa hasil yang akan ia dapatkan selama menjalani hidup. Manusia hanya bisa berusaha keras agar terhindar dari jurang kehancuran. Pada akhirnya semua manusia harus mengikuti apa yang sudah digariskan oleh Tuhan. Contoh sederhana dari kasus ini adalah kondisi dimana seseorang harus mengikuti ujian saringan masuk ke suatu universitas. Tentunya yang mendaftar bukan hanya sepuluh atau dua puluh orang, melainkan dapat mencapai puluhan ribu orang. Dari sekian banyak orang yang mendaftar tersebut, tentunya semua orang—atau minimal sebagian besar dari mereka—sudah mempersiapkan diri mereka dengan baik sebelum menempuh ujian. Setiap orang pastinya berharap bahwa mereka adalah orang yang diterima di jurusan favorit mereka, namun pada akhirnya pasti hanya sedikit saja yang memperoleh kesempatan untuk mewujudkan mimpi-mimpi mereka. Sisanya? Hanya bisa gigit jari atau bahkan mencari jalan lain yang mereka anggap tetap dapat mewakili mimpi mereka walau dengan bentuk yang berbeda. Itu semua sudah diatur, sudah ada jalan ceritanya. Mungkin kalau ada sedikit saja bagian yang salah atur dunia akan hancur.

Sekali lagi, manusia hanyalah aktor dan aktris. Tugas mereka hanyalah memainkan skenario yang telah ditulis sedemikian rupa oleh Tuhan—yang juga bertindak sebagai sutradara. Pemain juga punya hak, bukan? Pemain boleh untuk merasa tidak suka atau menolak kenyataan. Sah-sah saja bukan, bila pemain merasa galau atau berperilaku labil? Kembali kepada kisah seorang anak manusia yang berusaha berjuang mendapatkan imipiannya tadi. Anggap saja si anak tidak mendapatkan apa yang ia harapkan—entah itu dari segi jurusan atau dari universitas yang telah didambakannya sejak masih berseragam putih-merah. Anak tersebut mengeluh, merasa apa yang ia dapatkan tidaklah sesuai dengan apa yang telah ia perjuangkan, tapi itulah hidup. Manusia memang sudah diarahkan akan menuju kemana. Mari lanjutkan lagi kisah si anak. Anak ini—anggap saja namanya Bunga—akhirnya mulai menjalani nasibnya di tempat yang sama sekali tidak pernah ia duga. Hmm tidak pernah ia duga namun bukan berarti tidak pernah ia harapkan, tidak. Bunga pernah berharap bisa disitu, hanya saja karena tempat ini bukan prioritas utamanya, Bunga memiliki secuil kekecewaan dalam hatinya.

Singkat cerita, Bunga mulai menjalani hari-harinya sebagai mahasiswa. Diawali dengan kegiatan pengenalan kampus, lalu teman-teman yang baik pada Bunga mulai menampakkan diri dan entah bagaimana caranya, walau banyak tugas yang datang silih berganti, segala hal yang tadinya tidak disukai Bunga menjadi kebalikannya. Bunga menjadi sangat nyaman dengan apa yang ia miliki. Sepertinya Sang Sutradara Kehidupan memang sudah merencanakan dan mempersiapkan segala hal ini sejak jauh-jauh hari. Dari kasus Bunga, tersirat makna bahwa manusia kadang hanya perlu menunggu apa yang baik itu muncul—menunggu bukan berarti duduk diam dan pasrah saja, melainkan juga berusaha memunculkan hal-hal baik itu meskipun keadaan kurang mendukung.

Bila aktor atau aktris melakukan suatu kesalahan dalam suatu pengambilan adegan, tentunya sutradara akan menegur mereka, kemudian memberikan mereka kesempatan untuk memperbaiki kesalahan yang terjadi. Sama halnya dalam kehidupan. Kadang kehidupan tidak berjalan mulus—banyak bencana, cobaan, derita, duka lara—karena sesempurna-sempurnanya manusia pastilah mereka memiliki suatu celah yang dapat ditembus oleh sifat lalai. Tuhan seringkali memberikan teguran bagi manusia, memberikan kesempatan kedua, dan membiarkan manusia mencoba lagi dari awal. Seorang pemain film tidak mungkin langsung ahli memanipulasi emosi dan raut wajah dalam sekali bermain—pastilah ia pernah mengalami tahapan-tahapan yang mungkin tidak menyenangkan untuk dilalui. Semestinya seorang pemain tidak perlu takut salah, karena tanpa kesalahan ia tidak akan tahu mana bagian yang dapat dikembangkan lagi dari dirinya.

Suatu pementasan akan berjalan lancar bila ada kerja sama yang baik dari seluruh elemen yang terlibat. Mulai dari penulis skenario, pengarah gaya, pemain utama, figuran, penata kostum, rias, dan segala hal lainnya. Bila ada satu saja yang tidak melaksanakan tugasnya dengan benar, pastilah hasil yang didapatkan akan kurang sesuai dengan harapan. Begitu juga dalam kehidupan, individu diharapkan dapat berjalan beriringan dengan individu-individu lainnya. Bila ada seseorang yang mencoba tampil beda, seringkali ia dikucilkan atau dianggap aneh oleh yang lain, padahal tidak semua perilaku abnormal itu dapat dianggap sebagai sesuatu yang buruk, bisa saja keanehan itu malah membawa dampak yang positif bagi kehidupan manusia.Yang penting adalah manusia menemukan makna yang tersirat maupun tersurat dalam setiap kejadian dalam kehidupan.

postingan yang ini sebenarnya merupakan makalah (atau paper? entah, saya tidak tahu bedanya walau sudah setahun jadi mahasiswa) yang saya tulis dalam rangka mengerjakan tugas Ujian Tengah Semester Mata Kuliah Filsafat Manusia. Berhubung dulu saya pernah janji sama seseorang untuk mengepos tugas-tugas kuliah saya yang dapat nilai bagus, jadilah saya post disini. Boleh jadikan tulisan saya ini inspirasi anda, tapi mohon bilang saya dulu sebelumnya. Makasih😀

 
Leave a comment

Posted by on August 8, 2010 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: