RSS

Running Surveyor #1

03 Jul

Beberapa minggu ini saya sering nonton sesuatu di laptop sambil ngakak. Bukan gara-gara setres ngerjain laporan dan tugas-tugas mengerikan sebagai pengganti UAS semester ini, tapi karena nonton variety show berjudul Running Man, setelah dicekokin terus sama Churnia yang sangat tergila-gila pada Song Joong Ki (yang tadinya saya kira disukai Churnia hanya karena tampang cute-nya, tapi ternyata bukan cuma itu wkwk). Saking seringnya nonton acara ini, entah karena apa saya sampe mimpi-mimpi. Jalan di suatu tempat entah dimana, semacam terjebak, lalu di mimpi itu saya melihat ada yang memberikan saya petunjuk mengenai bagaimana cara menemukan jalan keluar, hingga akhirnya saya berputar-putar dan menemukan jalan keluar (sambil lari-lari, udah kek Song Ji Hyo di Running Man. Bener dah).

Ternyata minggu depannya setelah saya mimpi itu, saya mengalami kejadian yang hampir mirip dengan mimpi saya. Jadi begini, dosen saya diminta salah satu pihak luar untuk membantu surveynya mengenai sesuatu hal pada masyarakat Mojokerto, dan karena dosennya juga sibuk, jadilah beliau minta tolong mahasiswanya untuk menyelesaikan tugasnya. Saya aslinya bukan mahasiswa yang ngetop di kalangan dosen, tapi kebetulan saya punya kenalan kakak kelas yang dikenal baik oleh dosen. Akhirnya kakak kelas tersebut mengajak saya, dan jadilah saya bergabung pada tim surveyor. Berhubung kegiatan survey dilaksanakan saat masa-masa Ujian Akhir Semester, jadi semua anak nggak ada yang mau kalo nginep. Maka dibuatlah sistem pulang-pergi (Surabaya-Mojokerto cuma 1,5 jam kok. Kalo lancar) dan setiap harinya tim yang berangkat bisa berbeda. Saya harusnya tidak berangkat saat hari pertama pengumpulan data, tetapi karena teman saya yang bernama Adinda bilang “Kalo kamu nggak ikut, nanti aku jadi cewek sendirian di mobil huhu temenin dong Visi,” jadinya saya memutuskan ikut, padahal tugas laporan eksperimen kelompok saya masih belum kelar. Saya ikut bukan karena reward yang akan saya dapet, tapi dalam rangka menemani kawan saya. Eh ternyata si Jihan juga ikut, jadilah tim surveyor hari pertama berangkat dengan formasi 3 wanita dan 6 lelaki.

Selasa, 28 Juni 2011

Pukul setengah 8 pagi ada ujian Psikologi Pendidikan. Saya tidak benar-benar belajar untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian itu. Entah kenapa, males. Udah jenuh aja ketemu buku dan jurnal sejak awal semester untuk ngerjain tugas DMP, KAU, Eksper, dan Pendidikan, dan Psikodiagnostik. Semester 4 memang masa-masanya menuju puncak kuliah, dimana puncaknya bakal terjadi di semester 6, tapi justru disaat-saat ini terjadi juga kenaikan jabatan di kegiatan organisasi mahasiswa, kepanitiaan, atau tempat magang. Awalnya sih hampir semua mahasiswa fokus kuliah, hal ini bertahan sampai kira-kira UTS berlangsung. Setelah UTS beberapa unit magang dan kepanitiaan di kampus membuka Open Recruitment, dan memang tahun ini tahunnya angkatan 2009 untuk aktif jadilah banyak yang daftar dan keterima sampe tempat nongkrongnya anak 2009 pun sepi, saking pada sibuk masing-masing gitu. Eh tapi kenapa jadi bahas ini deh. Pas ujian saya ngerjain bener-bener pake nalar. Gak apal sama sekali, secara baca buku juga baru dilakukan pukul setengah 6 pagi, jam setengah 7-nya udah saya tutup lagi.

Akhirnya kami berangkat jam 11 siang. Jam setengah 1 udah sampai Mojokerto, dan gak langsung terjun ke lapangan. Kita makan siang, briefing, lalu setelah makan langsung ke kantor kelurahan yang akan dijadikan lokasi sampling. Abis ketemu petugas kelurahannya, kami dibagi jadi beberapa tim. Kebetulan saya kebagian jalan di RT 3 RW 1, bersama salah satu kakak kelas saya. Kami jalan berkeliling, mencari daerah jajahan sesuai petunjuk yang diberikan oleh petugas tadi sambil liatin rambu-rambu yang ada. Kelompok yang lain juga gitu, mencari daerah masing-masing untuk di survey. Terus setelah sepuluh menit gak nemu, akhirnya kami mulai frustasi (yang baru menemukan daerah jajahan baru satu kelompok). Saya paham bagaimana rasanya Ji Suk Jin dan Yoo Jae Suk mencari haechi keliling gedung Sejong Center of Performance Art di Seoul sana. Capek.

Gak lama setelah satu kelompok masuk ke rumah penduduk, Mas Jonny yang berperan sebagai Koordinator Lapangan datang. Ia menjelaskan beberapa hal, sampai akhirnya kita tau bahwa daerah yang tadi kita cari batal dijadikan lokasi pengambilan data. Kemudian karena sudah ada kelompok yang terlanjut ambil data, akhirnya kita pake RW yang terlanjur dimasukin. Oke, akhirnya kita cari lagi dan makin bingung, karena pas tanya-tanya ke warga sekitar, rata-rata jawabnya begini “Waduh, ndak tahu ya mbak. Kalo RT saya sih bukan itu.” eeah. Sebenernya yang bikin jadi susah gini adalah metode samplingnya, stratified random sampling. Kalo aja samplingnya pake snowball, pasti bakal lebih mudah, tapi mungkin bakal ribet di akhir, karena kurang representatif.

Terus akhirnya misi diubah. Mas Dewa yang satu tim dengan saya mengusulkan untuk mencari orang yang bisa ditanyai lebih dahulu, baru kemudian cari wilayah. Oke karena saat itu masih pukul 2 siang, kayaknya orang-orang banyak yang lagi boci *sok imut bet boci*  terus pas nemu orang, orang pertama bilang “Oh mas jalan aja sampe ujung sana, terus nanti belok kiri.” pas tanya ke orang yang ada di tempat lurus dan diujung belok kiri, ibunya bilang “Oalah, itu mah dari sini belok kanan, lurus, nemu gang kecil ke kanan lagi.” Ampun -_- Jadi sebenernya itu gang kecil letaknya cuma beberapa langkah dari tempat nanya ke orang pertama tadi. Jadi buang-buang waktu dan tenaga dah.

Akhirnya sudah jam 3 kurang dan kami berhasil menemukan RT tempat survey. Mas Dewa menemukan salah satu warga, tapi bapaknya bilang mau pergi, jadi beliau bilang “Nanti aja jam setengah 5-an balik lagi mas.” oke, jadi kami cari sasaran lain. Mata sibuk keliling, cari mangsa. Akhirnya Mas Dewa nemu, saya belum. Terus saya asal nyamperin ibu-ibu yang lagi ngobrol sama tetangganya, eh untung si ibu mau. Ternyata si ibu minta tolong saya yang ngisiin semua kuisionernya, berhubung beliau nggak bisa baca tulis. Gak lama pas baru mulai membangun rapport, hujan turun. Singkat cerita, saya terdampar di rumahnya si ibu yang masuk-masuk lagi dari gang kecil utama tadi.  Akhirnya tibalah saat memulai wawancara yang sesungguhnya. Pertanyaan pertama, tentunya tanya identitas dulu dong ya, habis gitu tanya alamat rumahnya. Si ibu jawab, “Oh, disini RT 4, RW I mbak,”

Matek. Sial. Salah masuk berarti. Ini mah daerah jajahannya kelompok laen. Padahal satu gang, tapi ternyata deret kanan RT 3 dan deret kiri RT 4. Tapi ya sudahlah. Emang nggak nanya dulu sih tadi. Salah saya dan gak mungkin juga meninggalkan responden di tengah-tengah begini. Satu berkas kuisioner ini sangat berharga, woi. Diluar juga masih hujan lumayan deras, jadi ya saya lanjutkan ngobrol-ngobrolnya sama si ibu ini.

Namanya Bu R. Ibu ini tinggal sendirian, padahal rumahnya bertingkat. Usut punya usut, ternyata anaknya ibu ini sudah meninggal, padahal dari dulu beliau tinggal sama anak satu-satunya. Suaminya juga sudah wafat, dan cucunya nggak mau kalo tinggal sama dia, jadilah beliau disitu sendirian. Sepi, remang-remang, tidak ada teman. Ibu ini sudah tidak kuat bekerja, jalan saja pelan-pelan. Satu langkah beliau bisa sepertiga langkah kaki saya. Jadinya si ibu nggak punya penghasilan, sehari-hari beliau menunggu beras bantuan dari pemerintah, juga uluran tangan dari tetangga sekitar dan cucunya. Ya Allah, saya jadi kebayang gimana hari tua saya nanti. Saya juga jadi menyesal kenapa dulu nggak rajin berkomunikasi dengan nenek saya waktu beliau masih sehat. Tidak punya teman bicara adalah saat-saat yang sangat menyiksa, saya tahu itu. Berhubung sudah tidak mungkin lagi memperbaiki komunikasi dengan nenek, ya berarti saya haru rajin-rajin nelpon ibu saya, jangan tunggu ditelpon duluan terus. Malu dong, masa lebih sering komunikasi dengan teman di kampus atau teman SMA, baik secara langsung atau sms atau tweet atau wall. Bahkan kalau telponan dengan pacar saja bisa sampai 3-4 jam sendiri. Wew.

Waktu berjalan lambat. Perbincangan pun berlanjut ke hal-hal lain. Sebenarnya semua data yang saya butuhkan sudah berhasil terkumpul, tapi di luar masih hujan deras dan saya malas mengeluarkan payung. Gak berapa lama si ibu hilang, lalu kembali ke depan, membawa sepiring roti dan segelas air. “Ayo mbak disambi, kan capek daritadi nulis-nulis.”

Ya Allah, merasa miris saja saya jadinya.

“Tadinya saya beli itu untuk cucu saya. Dia bilang mau datang hari ini, tapi kayaknya nggak jadi. Soalnya sudah sore gini tapi nggak muncul-muncul. Jadi ya daripada nggak kemakan mending buat mbak saja,”

Makin miris. Saya bisa aja nangis, tapi ibu ini nanti bisa salah paham kalau saya nangis di depannya. Akhirnya saya paksakan tersenyum. “Makasih, bu,” kemudian mengambil sepotong roti dan mulai mengunyahnya.

Setelah hujan sedikit reda, saya pamitan, lalu berjalan melangkah mencari rumah lain untuk disurvey. Capek saya mendadak hilang, berganti jadi semangat 45. Tidak mau waktu yang tersisa tersia-sia, langsung saya mampir di salah satu rumah yang kebetulan penghuninya sedang bersantai di teras.

 
1 Comment

Posted by on July 3, 2011 in Uncategorized

 

Tags: ,

One response to “Running Surveyor #1

  1. Asop

    July 6, 2011 at 20:59

    Oh, tidak, sampling ini sampling itu… >.<'
    Dulu pernah dapet pelajaran statistik di tingkat dua dan tiga…. sekarang… aduh, ke mana ya ingatan saya tentang itu?😕

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: