RSS

Me and Mr. Moscovitz

25 Jul

Kata-kata diatas saya pakai karena dari dulu saya suka banget sama lagu Me & Mrs. Jones-nya Michael Buble. Saya suka lagu ini bukannya gara-gara hidup saya sesuai dengan isi lagu itu, bukan kok. Saya tidak punya kebiasaan duduk di kafe tiap jam setengah 7, terus ketemuan sama orang yang bergelar Mr., membuat rencana bersama sampe akhirnya merasa bersalah pada pasangan masing-masing (lirik lagu asli lagu itu adalah “We meet everyday at the same cafe, 6.30 I know she’ll be there. Holding hands, making all kinds of plans”).

Lalu?

Saya suka tokoh Michael Moscovitz yang digambarkan di dalam novel serial The Princess Diaries. Entah kenapa (kalo di dalam buku itu) dia digambarkan sebagai lelaki yang sangat unyu. Siswa berprestasi, wajah tampan, baik hati, mahir main musik dan jago olahraga tapi tidak terlalu terkenal, karena ia kurang suka jadi pusat perhatian jadi jarang-jarang tampil. Setelah lulus SMA, Michael kuliah di Columbia University (Ivy League yang sekarang jadi kampusnya Cinta Laura). Parah, kurang mantap apa lagi coba ini cowok. Michael ini bukan tokoh utama, tapi dia jadi banyak disorot karena konon ia adalah kakak dari Lily Moscovitz, sahabat baik Mia Thermopolis sejak kecil. Kalo baca novel ini saya jadi suka berandai-andai apakah cowok seperti Michael ini sungguh ada di dunia nyata, mengingat pada akhir serial ini dikisahkan bahwa Michael bergabung dengan tim peneliti pengembangan alat kedokteran untuk membuat robot yang bisa membantu proses operasi jantung.

Sebaliknya, Mia sang tokoh utama digambarkan sebagai cewek biasa-biasa saja yang mendadak diberitahu kalau dirinya adalah putri mahkota. Ayah kandungnya sengaja merahasiakan identitasnya sebagai Pangeran Kerajaan Genovia (katanya sih kerajaan ini nyempil di dekatnya Perancis dan Luxembourg). Mia merasa dirinya tidak pantas meneruskan jabatan ayahnya, karena dia tidak lulus di mata pelajaran aljabar, tidak jago olahraga, tidak suka mata pelajaran lainnya dan yakin kalau satu-satunya yang dia bisa hanyalah menulis. Selain menulis, ia memiliki ketertarikan terhadap psikologi. Sampai-sampai kalau sedang galau Mia menuliskan sepucuk surat untuk Carl Jung yang sangat ia kagumi.

Jadi ceritanya Mia sangat percaya bahwa setiap manusia lahir untuk mengaktualisasikan dirinya (sesuai teori yang dicetuskan oleh Carl Jung). Ia berusaha melakukan apapun demi bisa meraih aktualisasi diri, mulai dari kencan bersama Josh Richter (cowok terpopuler di sekolahnya), bergabung dengan klub gerakan siswa, mencalonkan diri menjadi Ketua Murid (sejenis Ketua OSIS gitu lah), sampai nekat menulis novel yang dilatarbelakangi oleh kehidupan pribadinya. Mia tahu dirinya tidak berkompeten, karena itu ia selalu meminta bantuan dari orang-orang yang dekat dengannya. Dari sekian banyak orang yang memberikan banyak dukungan padanya, salah satunya adalah Michael Moscovitz.

Oke. Jadi korelasinya apa?

Michael bagi Mia ternyata lebih dari sekadar partner yang dapat diandalkan kapanpun dimanapun. Michael adalah sumber energinya. Waktu Michael memilih pergi ke Jepang untuk menunaikan misi menyelamatkan dunia, Mia hanya bisa terbaring lesu di atas tempat tidurnya. Tidak napsu makan, tidak ingin mandi, bahkan ganti baju pun malas. Mia juga bolos sekolah seminggu, sampai ayah tirinya yang juga guru di sekolahnya repot mengurus surat izin. Diajak ngomong susah, kalo ditanya hanya menjawab dengan anggukan atau geleng-geleng kepala, akhirnya orangtua Mia terpaksa menggotongnya (serius, digulung pake selimut biar si Mia nggak kabur terus diangkut dan dimasukin mobil) ke psikolog remaja yang (katanya) terkenal di kota mereka.

Berlebihan?

Ya, saya juga berpikir seperti itu pada awalnya, tapi sekarang tidak lagi. Pertama, wajar kalau tidak nafsu makan saat pikiran penuh. Sebenernya apa yang dipikirin bukan sesuatu yang berat, tapi cukup mampu membunuh nafsu makan karena rasa bersalah susah dihilangkan. Pertanyaan “Kenapa gue bisa jadi begitu jahat?” terus menerus menghantui saat orang yang dibutuhkan mendadak jadi tidak peduli dan pergi tanpa meninggalkan pesan terakhir. Kalo nggak inget ujian udah deket dan akan sangat melelahkan hati serta pikiran kalau harus mengulang salah satu dari mata kuliah yang diambil semester ini, nggak bakalan ada deh niat cari makanan. Atau kalau nggak inget ini di kosan, bukan rumah jadi gak bisa seenaknya sendiri ya saya gak bakal mau repot juga.

Malas mandi? Dalam keadaan normal saja sudah sering malas–apalagi kalau ditambah fakta nggak ada lagi orang yang emang sengaja pengen liat kita dalam keadaan cantik bersinar. Jadi punya pikiran “Terus buat apa gue rapi-rapi? Emangnya ada yang bakal peduli?” padahal ya gak mungkin ada juga orang yang suka liat temennya kucel. Udah gak enak diliat, kalo terpaksa ngeliat juga bikin jadi gak semangat. Kalo gak ada yang bilang “tampangmu kayak orang habis nangis” pasti juga gak akan ngaca dan menarik-narik kedua ujung bibir dengan jemari.

Bolos sekolah mungkin memang bukan ide yang bagus, tapi kalau raga di sekolah sementara jiwa melayang entah kemana, percuma juga kan? Mending mengendap di kamar, sampai pikiran negatif hilang dan diri sudah bisa menerima kondisi. Belum lagi kata pepatah “satu orang yang sedih akan menciptakan satu kelompok yang murung,” jadi daripada malah ganggu anak-anak lain pas lagi rapat atau apa, mending nggak usah ikutan aja. Sama saja toh, nggak akan belajar juga. Untungnya pas lagi pengen kabur, ada aja jalannya. Jadi bisa nggak ikut kelas tanpa dihitung absen.

Pada akhirnya yang bisa memecahkan masalah kita adalah diri kita sendiri. Psikolog hanya bisa membantu kita untuk menemukan jalan keluar dari labirin pikiran yang rumit, membantu diri untuk refleksi dan berpikir lebih jernih. Mendorong kita untuk sedikit lebih kritis, tidak hanya naif dan mempersalahkan diri sendiri. Karena dunia dibangun dari sebuah sistem yang melibatkan jutaan orang lainnya.

Kemudian di akhir buku hariannya Princess Mia menuliskan bahwa Michael-nya kembali dari Jepang dan ternyata mereka bisa ketawa sama-sama lagi. Semua masalah yang terjadi saat Michael pergi entah kenapa bisa dengan mudah dianggap tidak pernah terjadi. Wew. Gagal sekarang, belum tentu gagal lagi nanti. Mungkin sekarang memang yang terbaik ya seperti ini. Ya sudahlah🙂

 
1 Comment

Posted by on July 25, 2011 in Uncategorized

 

One response to “Me and Mr. Moscovitz

  1. alalabeng

    July 30, 2011 at 11:43

    masih aktif juga yah nulis sampai sekarang??

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: