RSS

A(n) (un)Coincidence

30 Jul

Selama bulan Juli ini hidup saya sangat-sangat berwarna. Betapa tidak, sejak awal bulan banyak hal yang terjadi–ada yang menyenangkan sampai saya senyum-senyum hingga ketiduran, ada yang membuat labil sampai saya susah makan, ada yang menegangkan sampai saya bolak-balik ke toilet. Salah satu dari kejadian yang membuat saya tidur sambil tersenyum salah satunya adalah apa yang terjadi kemarin.

Jakarta selalu terasa asing tanpa saya bertemu keluarga dan teman-teman semasa sekolah–juga #nomention. Hmm sebenernya nggak harus lengkap ada sih, salah satu atau salah dua aja sudah cukup, tapi pastinya bakal lebih asik kalo bisa ada tiga-tiganya. Kebetulan kali ini libur universitas saya ada yang samaan sama teman-teman saya, dan kebetulan juga saya dapet izin meliburkan diri dari aktivitas organisasi–kebetulan lagi orangtua saya meminta saya pulang. Jadilah saya ketemuan dengan teman-teman SMA saya. Jam 9 pagi saya sudah berangkat dari rumah, lalu di Pondok Gede janjian bertemu dengan Destri dan Santika (dua dari empat teman dekat saya semasa SMA), kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju Shelter Busway Pinang Ranti dan naik bus sampai Shelter Semanggi. Di Shelter Semanggi kami bertiga menunggu Bella, teman saya yang lainnya, kemudian setelah bertemu Bella kami berpindah rute busway ke koridor 1, melalui jembatan sepanjang jalan kenangan untuk menyebrang ke jalan Jenderal Soedirman, dari Jalan Gatot Subroto. Lanjut, naik bus lagi sampai Shelter Bundaran Senayan untuk bertemu Winny yang naik dari daerah Kampung Melayu. Eh ternyata kelewatan turun, habis mas-mas di buswaynya bilang “halte Ratu Plaza” sedangkan kami tahunya harus turun di halte Bundaran Senayan. Akhirnya kami turun di Shelter Masjid Agung, lalu naik bus balik ke halte Bundaran Senayan.

Singkat saja, jadi ceritanya kami lalu bertemu Winny dan lengkap sudah formasi kami sebagai bolang busway. Waktu masih SMA dulu kami beberapa kali jalan-jalan naik Transjakarta, ke tempat tujuan random. Terus numpang solat dan makan, habis itu pulang dijemput supirnya Santika. Pernah juga kami iseng habis Try Out Ujian Nasional, kebetulan pulangnya cepat, eh terus dengan masih berseragam dan membawa papan alas LJK kami pergi ke Plaza Semanggi sampai dikejar-kejar satpam. Haha, kemarin waktu kami melewati Plaza Semanggi iseng-iseng kami bercanda “Eh, masih pada nyimpen seragam SMA gak? Ke Semanggi yuk pake itu, terus kita masuk lewat Dunkin Donut deh kayak dulu biar gak ketangkep satpam,”

Kembali ke acara jalan-jalan kami. Awalnya kami berniat nonton Harry Potter and The Deathly Hallows Part 2 di Senayan City sambil menunggu Revival 4 (pensi andalan SMA saya, pas kemarin diselenggarakan di Istora Senayan yang memang dekat dengan Senayan City), tapi akhirnya tidak jadi. Kami memilih duduk di Food Court sambil makan dan bertukar cerita–saking kangennya. Apalah artinya nonton Premiere film Harry Potter di Indonesia kalau dibandingkan dengan momen ketemu teman yang nggak bisa ketemu setiap hari? Jelas sangat kecil. Nonton Harry Potter bisa kapan-kapan, tapi berkumpul seperti ini entah bisa kapan lagi. *mendadak sedih*

Obrolan yang terjadi kemarin siang tidak jauh-jauh dari persoalan Love & Relationship. Baik yang baru jadian, yang baru putus, dan yang sudah pacaran beberapa lama, semuanya kena interogasi. Sebenarnya kadang kami sudah berbagi kabar lewat grup Blackberry Messenger, tapi jelas rasanya tidak semenyenangkan kalau bisa melihat orang yang bercerita di depan kita, memperhatikan perubahan ekspresi mereka saat bercerita, mengikuti setiap gerakan kecil yang terjadi saat mereka mencoba menjelaskan sesuatu. Aih. Kalau dipikir-pikir, yang kami lakukan itu bisa dibilang metode Leaderless Group Discussion. Kami saling menghimpun data, dan pada akhirnya salah satu dari  kami berkata, “Eh, ternyata masalah kita kok sama ya? Emang sih ceritanya beda-beda, tapi inti masalahnya itu kan?”

Entah hal ini terjadi pada semua orang dan kawan-kawannya atau hanya pada kami, jadi mengalami hal yang sama dengan cara berbeda? Kemudian entah kenapa tiba-tiba kami berdiskusi random.

“Tau ih, masa cowokku suka banget sama cewek-cewek SNSD, aku ga ngerti dah ditularin siapa.”

“Haha, aku gak ngikutin sih, jadi gak tau. Emang kayak apaan sih?”

“Ho oh. Tau tuh si mantanku juga, suka banget dia donlot video orang joget-joget. Sama Running Man juga,  sampe berapa puluh episode,”

“Ooh kalo Running Man aku suka liat, aku seneng aja memperhatikan dinamika kelompoknya, tapi kalo musiknya gak terlalu dengerin.”

“Ealah aku mah nggak ngeh. Beberapa bulan yang lalu aja aku baru tau kalo SuJu itu kepanjangannya Super Junior gara-gara liat di twitternya orang,”

Tuh kan. Sama lagi. Padahal kami sudah berpencar dimana-mana eh kok bisa gitu ya?

 
4 Comments

Posted by on July 30, 2011 in Uncategorized

 

4 responses to “A(n) (un)Coincidence

  1. Asop

    July 30, 2011 at 18:22

    SNSD? Hahaha…😆

    Eits, saya hanya sebatas takjub pada SNSD, tidak lebih.😆
    Bahaya kalo naksir ama wanita korea semacam itu. Takutnya kalo melihat “versi asli” tanpa makeup jadi mengecewakan.:mrgreen:

    *wanita indonesia masih banyak yang cakep kok..*😦

     
  2. alalabeng

    July 31, 2011 at 12:54

    asekkkk…..
    realita para lelaku remaja jaman sekarang
    tak dapat dipungkiri lagi….

     
  3. lalaland

    August 14, 2011 at 21:34

    gak normal kalo cowok gak suka SNSD, apalagi Taeyeon

     
    • Visi

      December 5, 2011 at 22:44

      individual differences

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: