Posted by: Visi on: October 16, 2009
NB: berhubung banyak temen saya yang nulis pengalaman mereka pas Psycho Camp (PC) saya jadi terinspirasi. Ikutan nulis ya, teman-temanku—tapi psycho campnya di post yang selanjutnya ya!
P-S-Y Yes! C-H-O Yes!
Sudah hampir dua bulan sejak pertama kali saya mendengar kakak-kakak kelas saya (yang belakangan saya ketahui kalau mereka bertugas sebagai fastor, semacam pembimbing kelompok) meneriakkan yel-yel kebanggaannya anak Psikologi Unair itu. Pertama kali denger sih yaa saya cuma bisa cengo aja. Kaga ngerti itu apaan Cuma bisa mendengar jelas kata ‘yes’ karena mereka meneriakkannya sangat keras dan temponya cepat di dalam Ruang Abraham Maslow, Aula Fakultas Psikologi yang gedung terbilang kecil bila dibandingkan dengan tetangganya Fakultas Farmasi. Read the rest of this entry »
Posted by: Visi on: October 12, 2009
….seringkali kita mengeluh sebelum menjalani takdir…
“Apa yang kalian rasakan setelah semua yang kalian lewati satu setengah bulan ini?” adalah suatu kalimat yang ditanyakan oleh seorang senior kepada kami, adik-adik mahasiswa barunya yang sedang berbaris rapi, berjajar membentuk sebuah formasi huruf U dalam rangkaian acara Ospek Fakultas.
”Keluarga!”
“Persaudaraan!”
Begitu kata-kata yang keluar dari mulut beberapa teman saya, tapi entah kenapa yang muncul di benak saya Cuma kata ‘mantap’.
Mungkin anda semua yang mendengar ucapan saya akan merasa aneh. Mungkin ada yang berpikiran saya kurang peka. Cuma itukah? Yeah. Cuma itu. Tapi saya ingin mengklarifikasi kenapa saya Cuma bisa bilang mantap. Mantap, buat saya cukup mewakili segala perasaan yang saat itu memenuhi rongga hati saya.
Pertama, karena lagi-lagi saya masih takjub akan apa yang saya punya sekarang. Man, saya ini Cuma manusia. Nggak pernah tau apa yang sebenarnya bakal terjadi—baik atau buruk walaupun saya selalu berangan-angan bakal kuliah di Surabaya, padahal sejak kecil saya rutin mengunjungi ibu kotanya Provinsi Jawa Timur ini karena orangtua saya memang orang sana. Saya nggak pernah minta, apalagi berharap ditempatkan di sini. Yang saya tahu saya hanya berdoa meminta agar apa yang saya dapat adalah yang terbaik. Saya sadar dulu saya pernah ragu akan permainan tangan Tuhan yang membuat saya ada disini, tapi sekarang—saya tahu kalau ternyata Tuhan sedang berusaha melindungi saya. Tuhan tahu kalau saya nggak bisa marah dan paling benci dibentak-bentak, dan ya inilah dia hasilnya. Saya dapat bangku kuliah di Universitas yang Ospek jurusannya memang bersih dari hal-hal yang sejak awal saya harap nggak akan pernah saya lewati. Alhamdulillah. Berarti memang benar kalau manusia memang sering sok tahu. Sering merengek kesal minta sesuatu padahal nggak sadar kalau ada sesuatu yang jauh lebih baik dari apa yang saya inginkan.
Kedua, saya nggak nyangka kalau sekarang saya punya banyak orang yang bisa dihubungi saat ada masalah. Padahal dulu saya sempet merasa nggak diterima disini, saking banyaknya temen yang nanya begini, “Oh, orang Jakarta, tha? Kenapa nggak kuliah di UI aja?” Okelah, buat yang mengucapkan kalimat itu, pastilah mereka berpikir apa yang mereka tanyakan itu biasa aja. Cuma penasaran, tapi bagi saya yang ditanya, saya selalu ngerasa pertanyaan itu seperti bentuk halus dari pertanyaan, “So, lo ngapain disini? Mestinya lo tuh nempatin jatah bangku mahasiswa di Jakarta aja, jangan ngerebut kursi temen-temen gw disini.” Dulu saya Cuma bisa menggeleng lemah sambil mencoba tersenyum—walaupun rasanya pahit, tapi sekarang saya jadi ngerasa nggak sendirian lagi di tempat yang jauh dari rumah tempat saya tumbuh besar. Saya dulunya sering ngerasa terasing disini. Nggak hapal jalan, nggak tau rute angkot, bahkan nggak sadar kalau matahari terbit setengah jam lebih awal daripada di Jakarta sampai-sampai pas awal pindah kesini saya telat solat subuh melulu. Singkat kata, kacau–belum lagi saya nggak tau siapa yang bisa atau harus saya hubungi kalau saya butuh sesuatu.
Ketiga, saya rasa sekarang hidup saya jadi lebih santai. Mungkin Tuhan ingin memberi keleluasaan untuk saya beristirahat, mengingat sejak SD sekolah saya selalu jauh dari rumah (sebenernya nggak jauh juga sih, cuma macetnya itu loh) sampe-sampe tiap hari bangun jam setengah 5 pagi. Itu waktu SD. Pas SMA, saya harus bangun jam 4 pagi soalnya jam setengah 7 sudah bel masuk, jadinya jam setengah 6 kurang saya sudah harus berangkat dari rumah. Memang sih, sekarang saya juga masih sering begadang, tapi beneran deh, jam tidur saya di sini lebih banyak daripada dulu pas saya di rumah. Wajar, karena kalaupun saya ada kuliah jam setengah 8 pagi, saya nggak akan terlambat kalau berangkat jam tujuh lewat lima belas menit–karena jarak kostan saya ke kampus deket banget udah kayak main ke tetangga ajalah pokoknya.
Keempat, err–saya pikir-pikir dulu ya, bingung soalnya. Hehehe. Sampai jumpa!
Posted by: Visi on: October 5, 2009
‘–asale ndi, tha?” adalah sebuah kalimat yang sering sekali saya dengar sejak pertama kali saya menginjakkan kaki di tanah Surabaya untuk kuliah. Bukan cuma sekali pertanyaan ini ditujukan pada saya dan sudah berkali-kali juga saya menjawabnya, tapi saya selalu bingung akan memberikan jawaban apa kalo ada yang nanya saya orang mana, karena bagi saya tempat asal bisa berarti jamak.
Coba dipikir.
Asal Daerah itu–maksudnya daerah asal orang tua (jadinya menanyakan saya ini keturunan suku mana), saya sebelum kesini tinggal dimana (jadinya menanyakan kota tempat saya dibesarkan), atau mungkin sebelum sekolah disini saya sekolah di kota mana, gitu?
Sebenarnya hanya perlu ada satu kata yang mencerminkan nama kota untuk saya menjawab semua pertanyaan itu. Hanya saja, saya punya jawaban yang berbeda-beda untuk menjawab mereka semua. Saya nggak akan bingung kalau memang saya cuma punya satu jawaban untuk ketiga maksud pertanyaan yang saya paparkan diatas, bukan?
Untuk yang pertama, daerah asal orangtua. Berhubung saya percaya terhadap paham patrilineal, jadi saya mengikuti sejarah keluarga dari garis keturunan ayah saya. Karena itu, saya akan katakan Madura sebagai jawabannya. Untuk yang kedua, sebelum kesini tinggal dimana. Saya dibesarkan di kota Bekasi, bukan Jakarta, walaupun jarak dari rumah saya ke perbatasan daerah Jakarta hanya 1 kilometer saja. Bisa jalan kaki, naik sepeda, naik angkot, naik ojek, o mau ngesot juga silakan. Untuk yang ketiga, dulunya saya sekolah di kota mana. Kalo untuk yang ini, jawabannya baru Jakarta. Dari jaman SD orangtua saya udah rela ngelepas anaknya sekolah jauh dari rumah. Jauh apaan, cuma lima kilo palingan jaraknya. Mungkin juga karena waktu yang saya habiskan di sekolah lebih banyak daripada yang saya habiskan di rumah, jadi kadang saya ngerasa saya ini orang Jakarta bukan orang Bekasi. Hehehe,
Ada yang mau membantu saya menjawab?
Posted by: Visi on: September 9, 2009
Wah, hari ini ternyata tanggal cantik, ya? 09-09-09.
Saya baru sadar saat mengecek di desktop komputer, soalnya saya punya penyakit lupa tanggal kalo nggak sekolah. Hah? Nggak sekolah? Iya dong, saya kan mahasiswa, jadi kegiatan saya namanya kuliah dong, bukan sekolah. Oke, oke, sebelum makin banyak omong kosong, lebih baik saya sudahi saja pembukaan cerita hari ini. FYI, saya merasa bersyukur karena dulu memilih kalimat story of a fish sebagai alamat blog saya, karena memang blog ini isinya curhatan saya semua. Padahal sekali-sekali saya pengen juga nulis sesuatu yang ada unsur kritikalnya, seperti yang dilakukan beberapa teman saya di blognya atau di forum kaskus, tapi setelah beberapa kali mencoba, saya jadi merasa nggak pede. Yah, saya rasa saya harus banyak belajar dulu sebelum ikutan berkoar-koar begitu di blog. Malu dong, kalo nanti diajak debat tapi saya gagal mempertahankan argumen.
Saya mau cerita lagi soal kehidupan saya. Untuk anda yang sudah pernah merasakan duduk di bangku kuliah, pasti anda bisa menebak apa yang mau saya tulis. Ya, ospek, dosen, dan kecanggungan pertama saat dihadapkan dengan banyak tugas dalam deadline terbatas. Tapi untuk saat ini, saya nulis tentang Ospek aja dulu kali ya. Mau ngerjain tugas lain soalnya. Udah tau ada tugas tapi malah ngeblog.
Ospek. Satu kata akronim yang seringkali membuat merinding anak-anak yang mendengarnya. Nggak takut? Ngaku aja deh kalo boong. Wehehe, nggaklah. Saya sih antara takut dan nggak sama Ospek. Ada banyak alasan mengapa saya merasa biasa saja. Pertama, ya karena selama SMP dan SMA saya sering banget ikutan acara-acara pengkaderan seperti ini. MOS, Pelantikan ekskul, pendidikan persiapan pelantikan Pengurus OSIS, sampai Trip Observasi. Saya bukan hanya pernah jadi peserta, tapi juga pernah menjadi panitia. Jadi ya, kurang lebih saya mengerti apa saja yang akan dilakukan senior kepada juniornya, juga apa yang akan mereka ucapkan bila sedang dihadapkan dengan suatu masalah. Kedua, menurut saya, Ospek itu ajang bagi saya untuk mengenal banyak teman baru, seneng bareng-bareng, susah juga bareng-bareng. Jadi kalo diomeli seangkatan saya ya nyantai-nyantai aja. Read the rest of this entry »
Posted by: Visi on: August 23, 2009
Sudah 4 minggu saya pergi dari rumah. Ya ampun, nggak terasa. Saya kangen kamar ungu-hijau saya. Saya kangen (walaupun enggak mengakuinya) teriakan adik saya yang sering minta diajari matematika atau kimia. Saya kangen internetan unlimited dengan speed 120 MbPS lagi pakai laptop di depan TV ruang keluarga, menemani ibu saya yang sedang nonton TV. Saya kangen membukakan pintu rumah untuk ayah saya saat malam Sabtu, hari dimana beliau pasti pulang ke rumah setelah seminggu bertugas di luar kota sana. Ya ampun, ternyata anak yang biasanya cuek dan tidak terlalu pedulian pada apa yang terjadi di sekitar saya bisa nangis sambil nulis postingan ini ditemani Soundtracknya film Up.
Soalnya film ini adalah film terakhir yang saya tonton sebelum saya pergi ke Surabaya, Cuma berdua dengan adik saya pula, gara-gara waktu itu kami bosan nunggu orangtua yang sedang ada acara di mall yang sama, jadi kami kabur ke 21 dan nonton film Up. Asal anda semua tahu, pas nonton film ini mata saya berkaca-kaca terus loh. Sebenarnya saya sudah mau nangis tuh, sayangnya ada adik saya di sebelah yang sepertinya tahu kalo saya bakal nangis jadinya dia berkali-kali nengok ke arah saya terus. Akhirnya nggak jadi deh acara nangisnya. Padahal waktu itu lagi masa-masa kegelapan saya. Entah kenapa, saya merasa terpuruk banget gara-gara nggak bisa masuk UI (Ya Allah, padahal itu kan mimpi saya dari jaman SD) meskipun saya sudah dapat tempat kuliah sejak bulan April (walau saya nggak terlalu berharap kalau akhirnya saya kuliah disitu).
Sekarang Alhamdulillah saya mulai bisa bernapas lega (walaupun tengah dihimpit oleh tugas ospek, masa saya sekelompok disuruh bikin semacam buku tahunan fakultas gitu sama kakaknya dalam waktu sebulan). Saya tahu saya masih sering miris kalau saat online membaca update status teman-teman yang kini di profile facebook-nya ada tulisan begini: College: Universitas Indonesia 2009, faculty of xxxx.Beneran deh. Ada juga perasaan berdesir aneh yang muncul saat kemarin saya OSPEK dan diputarkan film tentang sejarah Unair, soalnya mereka nyebut-nyebut kalau FK Unair itu pecahannya FK UI. Alamak. Padahal saya semingguan ini sudah fasih menyanyikan Hymne Airlangga, tapi tetap saja ya, mungkin memang yang namanya cita-cita masa kecil itu emang lebih terasa menyesakkan kalo nggak bisa diraih.
*lirik-lirik judul postingan* *diam dan berpikir sejenak* *mulai menulis lagi*
Up. Yehe, sampe sekarang saya masih terngiang-ngiang kilasan-kilasan film animasi keren ini. Sebenernya ceritanya agak aneh ya kalo dipikir dengan logika—mungkinkah rumah bisa terbang dan dibawa kesana-kemari dengan mudahnya? Tapi saya rasa pemikiran itu malah jadi merusak kesenangan dan kenikmatan menonton film, bukan? Jadinya saya lupakan saja faktor cerita utama itu dan ikut masuk ke dalam cerita. Saya rasa saat menonton intro film Up, ini ceritanya tentang petualangan biasa saja. Kemudian saat melihat gambar anak kecil bernama Ellie, saya pikir nantinya ini cerita tentang Ellie dan Carl yang berpetualang berdua saat dewasa dan saling jatuh cinta karena pencarian mereka itu—tapi nyatanya tidak. Si Ellie keburu wafat sebelum mereka berhasil mewujudkan mimpi dan bahkan mengisi ‘Adventure Book’ milik Ellie. *saya sudah mau nangis loh sejak adegan Carl dan Ellie ke dokter kandungan tapi dokternya geleng-geleng gitu* Tapi tebakan saya benar sih, mereka berdua memang menikah—hanya saja Carl berpetualangnya sama Russel, anak kecil anggota pramuka sekolah setempat yang ingin mendapatkan ‘lencana membantu orang tua’ supaya selempangnya bisa penuh lencana (Cuma 1 lencana itu aja yang belum dia punya soalnya). Ah saya kok malah jadi spoiler gini ya? Tenang saja, saya nggak mau ngebocorin lagi kok walaupun sekarang filmnya juga udah nggak ada lagi di bioskop.
Setelah saya pikir-pikir lagi, inti cerita ini bukan di petualangannya sih, tapi bagaimana kita bisa bersabar dan berusaha terus untuk mewujudkan keinginan kita yang sempat terpendam. Oh ya, sama satu lagi. Kesetiaan. Saya selalu suka dengan sifatnya Carl yang setia sama Ellie sampai mati. Saya juga selalu suka sama semangatnya yang nggak pernah mati, walaupun persendiannya mulai berbunyi ‘krek, krek’ setiap di bangkit dari duduknya dan dia harus jalan pakai tongkat. Saya juga suka Russel, karena dia cerdas dan menyadarkan bahwa lebih tua belum tentu lebih segalanya. Kadang anak kecil justru yang lebih peka dan cerdas bersikap daripada orang dewasa. Pokoknya, anda-anda yang belum nonton, wajib nonton film ini. Dijamin nggak rugi.
*lirik-lirik paragraf yang awal-awal* *berpikir sejenak*
Apakah saya harus ikut tes masuk lagi tahun depan untuk mengejar mimpi saya? Entah ya, saya masih bingung. Masih penasaran sih, tapi disini saya mulai punya teman yang seru-seru juga. Saya sudah mencanangkan target dengan teman saya untuk menjadi anak gaul Surabaya (hapal rute angkot minimal, tau lokasi tempat-tempat asik buat jalan dan TERUTAMA foto-foto, tau tempat nyari makanan yang murah, enak, dan bergizi) dalam 1 tahun ini. Selain itu, saya juga malas ospek lagi. Err—gimana ya enaknya?
Apa Kata Dunia?